Seni Event

Jong Race di Tangan Generasi Melayu

Seniberjalan.com___Jong, sejenis permainan rakyat berupa miniatur perahu kecil yang populer di tengah masyarakat Melayu pesisir. Permainan ini sebagai tradisi dari nenek moyang Melayu Riau. Permainan jong diselenggarakan pada waktu musim angin utara, saat nelayan tidak melaut mencari ikan. Untuk mengisi kekosongan itu, mereka menggelar permainan jong di tepi pantai.
Meskipun sudah terpisah dari Riau, permainan jong masih dipertahankan masyarakat Melayu Kepulauan Riau bahkan berubah menjadi momen berkompetisi perahu yang seru. Sejak 4 tahun terakhir, penyelenggaraan permainan jong di Kepri atau yang dikenal dengan Jong Race rutin digelar tiap tahun. Bertempat di Pantai Melayu, Nongsa, gelaran Jong Race tahun ini berlangsung 3-5 Maret lalu.
Menurut Azali, sekretaris penyelenggara Jong Race 2017, Jong Race sebenarnya sudah terlaksana sejak 17 tahun lalu. Namun, dalam pelaksanaannya sempat vakum dua tahun. ” Sudah dari tahun 2000, sempat vakum sebelum lancar 4 tahun ini,” kata dia.
Azali merasa bangga karena permainan dari tradisi nenek moyangnya itu semakin mendapat perhatian masyarakat terutama bagi penghobi Jong. Antusias itu terlihat dari jumlah peserta Jong Race yang meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Tahun ini perlombaan Jong diikuti 1.680 peserta. Mereka datang dari berbagai daerah di Kepri.
Beberapa peserta dari luar Kepri juga memeriahkan perlombaan tersebut seperti dari Pelelawan dan Bengkalis. Sebelumnya peserta juga datang dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, namun tahun ini hanya diikuti Kepri dan Riau. Mewakili masyarakt melayu, Azali berharap, diselenggarakannya Jong Race tiap tahun dapat mempertahankan permainan rakyat tersebut dari generasi ke generasi.
” Yang kita harapkan permainan ini adalah mempertahankannya dan tentunya agar lebih dikenal masyarakat luas, tidak di Indonesia saja tetapi juga mancanegara,” ujar dia.
Jong Race mengikutsertakan kategori dewasa dan anak-anak. Jenis perahu yang dilombakan berukuran kecil, sedang dan besar. Dengan lintasan sejauh 1 KM masing-masing peserta sudah mempersiapkan strategi tertentu agar mampu melewati garis finis. Miniatur perahu tanpa nahkoda tersebut hanya mengandalkan kekuatan angin utara. Namun, kecerdasan merakit jong sangat menentukan kecepatan jong. Miniatur jong sebelumnya terbuat dari kayu sagu. Kemudian berganti bahan menggunakan kayu pulai. Kayu pulai dipilih karena bahannya lebih ringan ketimbang kayu sagu, tampaknya dapat mempercepat laju jong tersebut.
Bila tertarik untuk menyaksikan perlombaan ini, Jong Race diadakan pada saat musim angin utara tiap tahunnya atau sekitar Februari-Maret.