Seni Wisata

Moondarhanna, Permata Pulau Subang Mas  

 

seniberjalan.com__Pantai Moondarhanna bagaikan permata bagi Pulau Subang Mas. Pantai yang cantik dan merona di saat terik.Warga setempat lebih senang menyebut sebagai Pantai Permata. Sesuai cerita dari Rahman, pengelola Pantai Moondarhanna bahwa dulunya di pantai ini didiami oleh para saudagar Cina yang berjualan emas. Diperkirakan nama Moondarhanna berasal dari saudagar Cina yang dalam masa jaya-jayanya ramai berdagang emas.

Moondarhanna bermakana sejuk, yang secara umum diartikan Rahman dari asal kata Moon: Bulan. Enak dilihat dan menyejukkan. Benar, berada di pulau yang berdurasi 35 menit dari Pelabuhan Rempang Cate, Galang ini memang sejuk. Meskipun tidak banyak pohon kelapa tapi anginlah yang membawa hawa sejuknya.

Pantai Moondarhanna adalah pantai yang berlokasi di Pulau Subang Mas. Pulau yang kembali gencar diperkenalkan sebagai daerah tujuan wisata di berbagai media daring di Batam saat ini. Padahal keberadaanya sudah sudah lama. Bahkan keberadaannya memiliki sejarah tersendiri yang kaitannya dengan kerajaan Daik-Lingga.

Tipikal pantai Moondarhanna beda dari pantai kebanyakan di Batam. Terdapat banyak bebatuan granit yang tersebar dipinggir pantai, seperti pantai-pantai berbatuan di Bintan. Bedanya batuan-batuan di sini berwarna merah bata, tidak seperti batu granit di pantai – pantai Bintan. Batu-batu itu diperkiran Rahman adalah puing-puing dari pemukiman saudagar Cina.

Datang pada hari kerja jadi lebih leluasa menikmati pantai. Pasalnya tiap weekend dikatakan Rahman hampir selalu ada yang berkunjung. Tidak dari Batam saja, tetapi juga dari Singapura dan Malaysia.

Pantai Moondarhanna memiliki badan pantai yang tidak begitu panjang, tapi menyisakan space pasir yang cukup luas untuk bermain dan berlari-larian. Diperkirakan memiliki luas pantai sekitar 50 ha. Pasirnya hampir terlihat putih dan sudah dipastikan airnya jernih. Dijumpai binatang seperti ubur-ubur, terlihat jelas berenang di tepiang. Jumlahnya tidak banyak tapi sebaiknya tetaplah berhati-hati.

 

Pada siang hari, seolah-olah terang pantai ini, memancarkan cahaya. Sesuai namanya, bagai Permata. Seperti biasa, untuk benar-benar menyentuh pantai ini adalah melakukan aktivitas berenang. Suhu air lautnya terasa hangat. Bila tidak berkenan berenang, mungkin saja mengambil aktivitas lain seperti bermain di tepi pantai dan memancing di bebatuan.

 

Telaga Tujuh Putri Kerajaan

Penamaan Subang Mas diceritakan Rahman berasal dari cerita keberadaan Putri Dahlia dari kerajaan Daik-Lingga. Makamnya berada tidak jauh dari pantai ini. Nama Subang Mas berasal dari kebiasaan nenek Putri Dahlia yang dulunya suka membuang subang/anting, dari situlah asal muasal nama pulau ini.

Sebagai pulau yang sudah lama didiami sejak masa kerajaan Lingga, di tepi pantai Moondarhanna terdapat sebuah mata air peninggalan. Mata air itu membentuk telaga kecil dan diberi nama Telaga Payung Mahkota. Keberadaannya tepat di depan pantai. Warga setempat hanya membangun mata air itu dengan batu-batuan yang membentuk kolam kecil.

telaga 7 bidadari

Meskipun kecil, mata air itu adalah sumber kehidupan bagi warga Subang Mas. Sumber air tersebut sehari-hari digunakan untuk memasak oleh warga Subang Mas. Sangat jernih dan uniknya acap kali warga mengambil air di sana debit airnya tetap tidak kering.

Konon, mata air itu sudah ada sejak jaman kerajaan Lingga berjaya, tepatnya masa keluarga Putri Dahlia, Putri dengan ibu berasal dari Daik dan ayahnya berasal dari Penyengat. Asli keturunan Melayu Riau. Mata air itu adalah tempat mandi tujuh putri kerajaan pada masanya.

Sebenarnya telaga itu tidak hanya dijumpai di pantai Moondarhanna tetapi juga di Pantai Manda, Pantai yang bersebelahan dengan pantai Moondarhanna. Di sini, debit airnya lebih banyak dan selalu mengalir deras. Keberadaan mata air ini sangat mempermudah warga Subang Mas untuk mendapatkan air bersih hingga saat ini, terutama digunakan sebagai sumber air minum.

Berkunjung ke Makam Putri Dahlia

Bila berkunjung ke Pantai Moondarhanna, pengunjung sebenarnya tidak hanya bisa menikmati pantai saja. Bila berkenan, kita bisa jalan-jalan di Pulau Subang Mas. Pulau Subang Mas termasuk pulau berpenduduk.

Saat ini terdapat 80 Kepala Keluarga yang bertempat tinggal. Umumnya mereka adalah nelayan meskipun dulunya Subang Mas di kenal sebagai pusat perdagangan emas, dimana banyak dijumpai orang-orang yang berjualan emas. Sayangnya, aktivitas tersebut tidak lagi dijumpai di Subang Mas.

makan putri Dahlia, sumber: menixnews.com

Tak jauh dari Pantai Moondarhanna kita bisa menemukan makam Putri Dahlia. Keberadaan makam tersebut sempat menimbulkan pertanyaan, karena keberadaan makamnya baru ditemukan sekitar tahun 1997.

Beliau sudah lama meninggal karena perahu yang ditumpanginya tenggelam di pulau ini. Dayang pengasuh dan panglimanya juga dimakamkan di Subang Mas. Dari sejarah Kerajaan Daik-Lingga, memang terdapat nama Putri Dahlia. Diyakini bahwa beliau memang di makamkan di Subang Mas.

Bila langsung berkunjung ke Pantai Moondarhanna, kita akan melewati makam tersebut. Sedangkan bila mampir dulu ke Subang Mas, Anda dapat menempuh jalur darat. Dari jalur laut kita bisa melihat sekilas keberadaan makam ini. Terdapat gapura berwarna kuning sebagai penanda keberadaannya. Menjaga sopan santun saat berkunjung ke Pulau Subang Mas sering diingatkan warga karena selain makam putri Dahlia, ditemukan pula makam-makam syek di sini.

Rahman sendiri yang mewakili warga Subang Mas berharap pulau ini dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata. Namun, karena status quo pengembangannya diserahkan kepada pemerintah asal tidak dijual sesuai amanat nenek moyang di sana.

 

Akses

Menuju Pulau Subang Mas dapat ditempuh melalui jalur pelabuahan rakyat punggur dan pelabuhan rakyat Rempang Cate, Galang. Tapi, alternative yang lebih dekat adalah lewat jalur Rempang Cate. Harga sewa perahupun lebih murah dan jarak tempuhnya lebih dekat sekitar 30-40 menit Rempang Cate-Subang Mas. Jalur laut yang diseberangi terbilang aman karena banyak diapit pulau-pulau. Menuju Rempang Cate sudah tersedia bus mandiri. Namun, dari persimpangan Rempang Cate Anda harus mencari kendaraan lain menuju pelabuhan rakyat. Sangat disarankan menggunakan kendaraan pribadi. Sedangkan bila mengambil jalur punggur, perjalan lebih lama dan gelombang laut cukup kuat. Biaya masuk pantai Rp 15 ribu per orang

 

Tip

–          Datang pada siang hari suasana pantai akan terasa sedikit panas, sebaiknya bawalah sunblock

–          Saat berenang berhati-hatilah, di tempat ini ditemui binatang seperti udang kecil yang senang mengigit di bagian kaki

–          Perhatikan juga ubur-ubur yang berkeliaran agar Anda tidak diserang

–          Dianjurkan berkunjung ke Pantai Permata tidak di saat musim utara yang, biasanya berlangsung sekitar akhir dan awal tahun. Saat musim utara tidak dianjurkan berenang karena arus laut cukup kuat dan anginnya kencang.