Sudah cukup lama saya tak menyeberang ke Pulau Putri Batam, Kepulauan Riau, sebuah pulau kecil di seberang Pantai Nongsa.
Terakhir kali saya menginjakkan kaki di sana sekitar tahun 2019, masa ketika pemerintah daerah mulai membeton tepian pulau ini. Ditambah memasang batu-batu sebagai pemecah ombak.
Kini, pemandangan Pulau Putri tak jauh berbeda dibandingkan sebelum pandemi. Hanya saja saya merasa ukurannya kian menyusut, seolah “dikepung” batu pemecah ombak dan jalan beton.
Pulau Putri Berubah Wajah
Dulu, pulau ini seakan terbagi menjadi dua daratan. Untuk mencapai bagian satunya, kita hanya perlu berjalan menyeberangi perairan dangkal.
Ada pula sebuah bukit kecil, lokasi tulisan raksasa Wonderful Kepri berdiri. Namun saat saya kembali, bukit itu nyaris hilang, tanahnya digerus entah untuk apa tapi merek itu masih ada.
Rimbunnya pepohonan juga menjadi kenangan. Dulu, pohon-pohon besar dan pinus tumbuh lebih lebat di sini, pohon-pohon yang menjadi peneduh saat berkemah dan memudahkan pengunjung mengikat hammock.
Batu-batu alam yang dulu mendominasi pulau ini sudah berkurang karena pembangunan di pulau itu.
Janji yang Tak Kunjung Jadi
Di sisi selatan, dermaga beton masih berdiri setengah jadi, tak kunjung selesai sejak 2019. Nelayan akhirnya tetap menurunkan pengunjung langsung di tepi pantai.
Padahal, saat Menteri Pariwisata Sandiaga Uno berkunjung bersama Wali Kota Batam Rudi, sempat ada janji besar: Pulau Putri akan dijadikan destinasi wisata unggulan, bahkan kapal baru disiapkan untuk menggiatkan pariwisata.
Baca juga: Destinasi Favorit Warga Singapura di Batam
Rencana membangun kolam renang di tengah pulau juga sempat digaungkan. Nyatanya, hingga kini semua hanya sebatas wacana.
Legenda Pulau Putri
Bagi masyarakat Batam, nama Pulau Putri tidak asing. Pulau kecil ini menyimpan cerita rakyat yang berkembang dari generasi ke generasi.
Ada yang meyakini pulau ini adalah jelmaan naga yang gagal menyeberang ke Malaysia. Ia lalu berhenti, tertidur, dan berubah menjadi daratan.
Versi lain menyebut nama Pulau Putri berasal dari kisah tiga orang putri yang tinggal di wilayah ini. Terlepas dari mitos dan legenda, Pulau Putri tetap menyimpan daya tarik, terlebih jika dikelola dengan serius.
Aktivitas di Pulau Putri
Meski mengalami banyak perubahan, Pulau Putri masih menawarkan pengalaman singkat yang menyenangkan. Beberapa aktivitas yang populer:
- Menikmati sunset: Dari tepi pulau, matahari terlihat tenggelam perlahan di cakrawala. Panorama semakin indah karena pulau ini berhadapan langsung dengan Singapura dan Malaysia.
- Berkemah & hammock: Cukup membayar Rp2.000 per orang dan Rp5.000 per tenda, kamu sudah bisa bermalam di sini.
- Bersepeda & berjalan kaki: Mengitari pulau dengan jalur beton melingkar.
- Memancing: Menurut para tekong (nahkoda perahu), waktu terbaik memancing di Pulau Putri adalah malam hari.
Cara ke Pulau Putri Batam
Perjalanan dimulai dari Pantai Nongsa, Nongsa, Batam. Dari parkiran (biaya Rp10.000), pengunjung akan menemui para tekong yang siap mengantar. Pulau Putri hanya berjarak sekitar satu kilometer dan terlihat jelas dari bibir pantai.
Transportasi menggunakan pompong (kapal kayu tradisional) berkapasitas sekitar 10 orang, dengan ongkos Rp25.000 per orang pulang-pergi.
Waktu tempuh sekitar 10 menit. Tekong biasanya menunggu hingga rombongan siap pulang, tapi batas terakhir adalah pukul 18.00 sore.
Tips Berkunjung ke Pulau Putri
- Datanglah pagi atau sore hari untuk menghindari teriknya siang.
- Bawa makanan sendiri; warung di pulau hanya menyediakan mi instan dan camilan.
- Jaga kebersihan, bawa kembali sampahmu.
- Gunakan alas kaki nyaman dan celana yang bisa digulung, terutama saat pasang dan naik perahu.
- Simpan nomor kontak tekong agar mudah dijemput saat pulang.
Ringkasan Biaya
- Ongkos pompong pulang-pergi: Rp25.000 per orang
- Tiket masuk: Rp2.000 per orang
- Biaya berkemah: Rp5.000 per tenda
- Parkir kendaraan di Pantai Nongsa: Rp10.000
Map Pulau Putri
Show Comments









