Teh Turki, atau yang mereka sebut çay (dibaca: “chai”), adalah pengalaman rasa sekaligus budaya yang tak bisa dilewatkan saat berkunjung ke negeri dua benua ini.
Saya merasakannya pertama kali ketika disuguhkan di sebuah restoran. Gelas kecil bening berbentuk tulip ramping itu hadir begitu saja di meja, tanpa banyak basa-basi, seolah menjadi tanda sambutan khas orang Turki.
Teh Turki punya karakter yang unik: warnanya pekat, merah kehitaman, namun tetap jernih, tidak keruh seperti teh yang diseduh berkali-kali. Saat menyentuh lidah, rasanya ringan tanpa getir berlebihan.
Baca juga: Kelezatan Iskender Kebap Legendaris Ala Uludağ Kebapçısı Turki
Tidak manis, tidak sepat, tetapi ada sesuatu yang mengalir lembut di tenggorokan; flow yang membuat saya paham mengapa orang Turki bisa meneguknya berkali-kali dalam sehari tanpa merasa bosan.
Daya tariknya bukan hanya pada rasa, tapi juga pada penyajiannya. Teh selalu hadir dalam gelas bening kecil, tanpa gagang.
Bentuk ini memungkinkan teh terlihat indah dari sisi warna, sekaligus memberi kehangatan di tangan ketika digenggam.
Orang Turki Minum Teh Setiap Hari
Di restoran, saya melihat kebiasaan yang sama berulang: teh selalu siap direfil, tanpa diminta. Rata-rata warga Turki memang meminum teh setiap hari, bukan sekali, tapi bisa lima hingga sepuluh gelas.
Teh adalah denyut kehidupan mereka, sama seperti kopi di Italia atau anggur di Prancis.
Menariknya, teh bukanlah tradisi lama di Turki. Awalnya, kopi justru lebih populer sejak era Kesultanan Ottoman. Namun pada abad ke-20, pemerintah mulai mendorong penanaman teh di wilayah Laut Hitam, khususnya di Rize.
Sejak saat itu, teh perlahan merebut hati masyarakat, hingga kini menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Turki.
Baca juga: Mengenal Tenun Tradisional Turki di Museum Kilim Sivrihisar
Sementara itu, di hotel tempat saya menginap, saya mendapati teh dalam bentuk sachet dengan merek Doğadan.
Rasanya memang berbeda, lebih praktis dan sederhana, tapi tetap saya bawa pulang sebagai oleh-oleh kecil dari perjalanan tersebut.
Meski bukan çay asli dalam gelas tulip, ia tetap menjadi pengingat hangat akan kebiasaan minum teh orang Turki yang begitu melekat di ingatan saya.
Ketika meneguk teh sachet itu di rumah, pikiran saya berkelana kembali, membayangkan duduk di restoran di Ankara, larut dalam obrolan hangat bersama orang-orang lokal.






