Akibat pandemi jumlah kunjungan wisatawan ke Batam turun drastis. Namun, setelah new normal, kondisi pariwisata di Batam maupun Kepri secara umum berangsur membaik.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri per bulan September 2020, jumlah kunjungan wisman ke Kepri sebanyak 20,86 persen atau naik dari bulan sebelumnya dengan jumlah 1.999 kunjungan.

Namun angka tersebut masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan bulan September tahun lalu atau turun drastis 99,13 persen. Faktor penurunan ini disebabkan oleh kasus Covid-19 dan pembatasan wisatawan yang masih diberlakukan.

Pandemi Covid-19 telah berdampak besar pada sektor ekonomi masyarakat termasuk sektor pariwisata. Batam sebagai andalan pariwisata di Kepri dan pintu masuk wisman setelah Bali langsung merasakan imbasnya.

sumber: Disbudpar Batam

Langkah bersama yang dilakukan seperti protokol kesehatan nyatanya belum sepenuhnya mengembalikan denyut perekonomian sektor wisata karena masyarakat maupun wisman masih enggan dan takut untuk berwisata.

Kebersihan dan keamanan jadi alasan pertimbangan bagi mereka. Apa Standar Operasional Prosedur (SOP) kesehatan sudah diberlakukan di berbagai tempat wisata di Indonesia?

Belakangan, untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat dan menyelamatkan industri pariwisata, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengambil langkah melaksanakan program sertifikasi Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE) sejak September lalu.

Program sertifikasi CHSE ini laksanakan secara gratis bagi industri pariwisata di 34 provinsi di Indonesia. Pemerintah sudah menyiapkan panduan penerapan CHSE bagi pengusaha dan/atau pengelola, karyawan, dan pemandu wisata lokal dalam memenuhi kebutuhan pengunjung akan produk dan pelayanan pariwisata yang bersih, sehat, aman, dan ramah lingkungan pada masa pandemi Covid-19.

Menurut pemerintah penerapan Sertifikasi CHSE sangat penting untuk memulihkan kepercayaan wisatawan untuk berwisata aman dan nyaman sekaligus menyelamatkan industri pariwisata itu sendiri.

“Secara umum pelaksanaannya (protokol kesehatan) sangat baik, aman, sesuai dengan yang diperlukan saat ini sehingga semua para pelaku usaha di sektor pariwisata termasuk restoran hotel, kedai Kopi, bisa bangkit kembali,” kata Wishnutama dalam rilis Kemenparekraf, Minggu (22/11/2020).

Selain itu, dalam masa new normal telah mengubah pola orang berwisata, di mana pengunjung akan mempertimbangkan kebersihan dan keamanan. Sehingga dunia pariwisata memang harus bersiap diri untuk memberikan jaminan kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan yang tinggi pada produk dan pelayanannya.

 

Implementasi CHSE di Batam

Pada masa mitigasi penanganan Covid-19 atau dari awal mula virus masuk ke Indonesia yakni Maret-Juni 2020, perekonomian masyarakat begitu terpukul karena adanya aturan tertentu untuk membuka usaha, pemberlakuan social distancing secara masif, Work From Home dan penutupan berbagai tempat keramaian seperti tempat-tempat wisata dan hiburan.

Namun, ketika memasuki fase kedua, fase reborn dari Juni-Desember 2020, pemerintah mulai memberi kelonggaran pelaku usaha untuk membuka usahanya dengan syarat menerapkan protokol kesehatan.

Penerapan CHSE ini pada sektor pariwisata menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Batam, Ardi Winata adalah bagian fase reborn untuk bangkit kembali menyelamatkan perekonomian.

“Batam sebagai kota Parwisata, langkah tersebut diambil untuk mendorong pertumbuhan ekonomi terutama di sektor wisata, karena kita di Batam tidak PSBB dan Lockdown, jadi pelaku usaha dibolehkan membuka usahanya kembali asalkan menerapkan protokol kesehatan,” kata dia, Minggu 29 November 2020.

Kata Ardi penerapan CHSE ini harus menyentuh atau dapat dikomunikasikan kepada seluruh lapisan masyarakat yakni dengan penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) berupa kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan kepada karyawan,pemandu wisata lokal, pengunjung, masyarakat sekitar, dan pihak lain yang beraktivitas di daya tarik wisatamelalui media luring dan/atau daring.

Ada beberapa implementasi yang dilakukan Disbudpar di antaranya menjalankan program Sertifikasi CHSE untuk usaha pariwisata dan destinasi pariwisata.

“Kami memberikan sertifikasi CHSE untuk pelaku usaha wisata di Batam, ada 8 destinasi wisata dan 121 hotel yang telah disertifikasi. Selain itu, Disparbud melakukan pemilihan Duta CHSE dan menyelengarakan pelatihan yang bersifat tematik. ” jelas dia.

Penerapan SOP Kesehatan di tempat wisata setidaknya berupa himbauan tertulis dan dapat mengkomunikasikan kepada pengunjung atau tamu, vendor dan pelaku wisata lainnya.

Berdasarkan panduan CHSE yang dikeluarkan Kemenparekraf, himbauan yang harus diterapkan seperti tidak melakukan kontak fisik, menjaga jarak aman minimal 1 (satu) meter, mencuci tangan dengan sabun/menggunakan hand sanitizer, memakai alat pelindung diri sesuai keperluan, seperti masker dan sarung tangan, menerapkan etika bersin dan batuk dan sebagainya.

 

sumber: kemenparekraf

sumber: kemenparekraf

Implementasi CHSE ini diharapkan menjadi jaminan kepada wisatawan dan masyarakat bahwa produk dan pelayanan yang diberikan sudah memenuhi protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan.

Satu contoh sektor wisata yang telah menerapkan CHSE di Batam adalah Harris Resort Barelang. Menurut Marketing and Branding Manager Harris Barelang, Viki, penerapan CHSE sebenarnya sudah sejalan dengan program corporate Harris Resort Barelang yang sudah dijalankan sebelumnya.

“Selain memberlakukan protokol kesehatan, kami juga menggunakan Touchless Service untuk mengurangi kontak fisik dan penyediaan menu restoran secara digital dalam bentuk QR code,” kata dia.

Menurut Viki, penerapan SOP kesehatan tersebut setidaknya mampu memberikan kepercayaan kepada tamu untuk datang dan menginap kembali di hotel tersebut.

(*)