Seni Budaya

Berwisata sejarah di Camp Vietnam Batam

gereja tua
museum

Seniberjalan.com__Sebagai daerah kepulauan, Batam tidak hanya menyuguhkan wisata pulau dan pantai. Menjemukan, bila tak punya variasi destinasi wisata. Untungnya, pilihan berwisata sejarah tersedia di Batam, salah satunya adalah Camp Vietnam.

Bagi masyarakat Batam, Camp Vietnam sudah familiar. Tempat ini kerap dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Dikatakan Abdul, Mantan Koordinator Pengelola Camp Vietnam Batam, Camp Vietnam sudah dikenal baik oleh wisman. Menurutnya, setiap tahunnya pengunjung Camp Vietnam mencapai 30-40 ribu orang. Tambah dia, Camp Vietnam, pernah mendapatkan penghargaan dari United Nation dalam hal ini UNHCR sebagai tempat pengungsian yang cukup baik menangani para pengungsi.

” Setelah di tutup tahun 1996, penghargaan itu diberikan,” kata dia.

 

monumen kemanusiaan

Sebagai pilihan wisata sejarah, Camp Vietnam tidak hanya berperan sebagai destinasi wisata. Tak jarang berbagai sekolah terutama dari Batam berkunjung belajar di sini. Minimal mereka belajar sejarah Camp Vietnam.

Seperti yang diketahui, Camp Vietnam resmi dibuka untuk umum sebagai destinasi wisata pada tahun 2000. Tempat ini sangat berperan pada masa pelarian atau menjadi saksi bisu para eksodus dari Vietnam. Berdasarkan penuturan Abdul bahwa Camp Vietnam di bangun sekitar tahun 1976. Pada masa itu sedang bergejolak perang saudara di Vietnam.

Sekitar 250 ribu warga Vietnam mengungsi ke Galang. Mereka menggunakan perahu untuk sampai di Galang. Dalam perjuangan mengarungi samudra, tak sedikit pula yang meninggal di lautan.

Camp akhirnya ditutup tahun 1996 setelah 20 tahun memberi kehidupan sementara bagi pengungsi Vietnam. Selama mengungsi, di bawah perlindungan PBB (UNHCR) disediakan beberapa fasilitas pendukung di sini seperti sekolah, tempat ibadah, barak makanan, rumah sakit dan fasilitas lainnya. Beberapa bukti fisik yang ditinggalkan inilah yang masih dijaga hingga sekarang. Sekarang, pengelolan wisata sejarah ini di bawah pengelolaan BP Batam.

Dengan luas sekitar 80 ha, ada banyak objek yang disuguhkan kepada wisatawan. Bahkan bentuk kapal yang digunakan pengungsi untuk menyebrang ke perairan Kepulauan Riau masih utuh. Ada dua kapal kayu yang dipajang, pengunjung bisa melihat langsung setiap sisi kapal ini. Pastinya, tak terbayang seperti apa perjuangan ratusan ribu rakyat Vietnam berlayar menggunakan kapal itu menuju Batam untuk mendapatkan suaka.

Camp Vietnam juga dianggap sebagai wisata sejarah sekaligus wisata kemanusiaan karena dari tempat ini kita mendapat gambaran perjuangan pengungsi. Selama hidup belasan tahun di pengungsian, ratusan warga Vietnam yang meninggal dunia, juga di kubur di sini. Kuburan itu juga menambah fakta sejarah pelarian warga Vietnam. Perjuangan para pengungsi tersebut diapresiasikan dengan dibangunnya monument kemanusiaan atau humanity statue di situ.

“Ketika ditutup, rakyat Vietnam diantaranya dipulangkan ke negara mereka, yang lolos screening diterima oleh negara ke tiga,” ujar Abdul.
Setiap tempat punya cerita

kapal yang digunakan pengungsi, menurut Abdul kapal ini asli.

 

Pajangan kapal bukan satu-satunya peninggalan pengungsi Vietnam yang menjadi sumber sejarah. Ada bekas barak makanan meskipun tinggal puing-puing saja. Bangunan ini pernah digunakan sebagai tempat penyimpanan logistik pada masa itu. Para pengungsi juga sempat mendapatkan fasilitas pendidikan. Hal tersebut terlihat dari puing-puing bangunan yang tersisa, di sana pernah di bangun sebuah sekolah untuk belajar bahasa Prancis.

Peninggalan-peninggalan bangunan tersebut tidak diubah, hanya dilakukan pemeliharaan seperti diperbaiki dan di cat. Sedangkan fasilitas lain yang baru ditambah berupa penangkaran rusa di depan pajangan kapal kayu.

Berkelilinglah di Camp Vietnam. Banyak tempat terpisah yang dijumpai untuk mengetahui lebih jauh sejarah Camp Vietnam. Potret perjuangan para pengungsi akan lebih tergambar bila Anda masuk ke sebuah bangunan bercat putih dan coklat. Bangunan itu adalah museum.

Di sinilah kita tahu faktanya bahwa pengungsi Vietnam benar disuakakan di Galang ini. Di museum sederhana tersebut memuat arsip-arsip sejarah Camp Vietnam lengkap dengan foto-foto para pengungsi masa itu. Anda akan menemukan potret seribu wajah yang dipajang di pojok pintu masuk museum.

 

 

Foto-foto lainnya juga menggambarkan potret kehidupan rakyat Vietnam hingga mereka dipulangkan atau hingga tempat itu ditutup. Tampak pula foto para pejabat Indonesia yang berkunjung ke pengungsian. Selain foto, kehidupan pengungsi tersebut juga goreskan dalam lukisan-lukisan yang dipajang dan arsip berupa kliping-kliping koran.

Lebih detail, Museum Camp Vietnam tampak memajang perkakas-perkakas yang pernah digunakan pada masa pengungsian. Misalnya berupa telpon, televisi, sepeda, patung-patung, alat-alat masak dan berbagai perkakas lainnya. Bila Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang museum yang juga disebut sebagai P3V office ini, petugas museum yang berjaga di depan pintu, senantiasa berbagi informasi.

 

 

Di depan museum terdapat satu bangunan lagi yang perlu dikunjungi. Ada bangunan bertingkat yang tidak begitu besar. Bangunan bercat putih coklat tersebut dulunya digunakan sebagai penjara. Kondisinya masih utuh lengkap dengan ruang jeruji besi yang tampak dari luar.

 

penjara

 

Menjadi tempat ibadah umat

 

 

Sebagian besar peninggalan fisik bangunan yang pernah digunakan pengungsi tidak digunakan lagi. Namun, ada bangunan berupa gereja tua yang ternyata masih digunakan hingga sekarang. Tak jarang, pada saat weekend gereja ini ramai dikunjungi, bahkan masih digunakan sebagai tempat ibadah umat katolik.

Gereja Cua Ky Vien atau Nha To Duc Me Vo Nhiem ini tampak tua. Namun, masih dirawat dan di cat putih. Saat masuk ke dalam kondisinya masih baik meskipun hanya berlantai semen. Gereja katolik ini cukup unik meskipun hanya di bangun dari kayu. Sebelum memasuki gereja, Anda akan melewati gapura dan jembatan kayu. Gereja ini memiliki halaman yang luas dan cukup asri.

Gereja tidak berdiri sendiri. Di sebelah kanan terdapat patung bunda maria yang bersanding dengan gereja tersebut. Di samping patung tersebut di bangun monument kapal sebagai interprestasi bagi para pengungsi Vietnam. Pada tugu batu disampingnya tertulis Danc Len Me, Pray For Us. Sepertinya juga mendorong pengunjung untuk turut mendoakan para pengungsi. Selain gereja, di Camp Vietnam ditemui vihara yang disebut Chua Kim Quang.

” Agama mereka bukan katolik saja, ada buddha juga,” tambah Abdul.

Di akhir kunjungan tempat ini, bukti lain bahwa rakyat Vietnam pernah hidup di Galang adalah kuburan. Ratusan rakyat Vietnam dimakamkan ditempat itu. Setiap kuburan bercat putih dan bersalib merah. Di depan kuburan disediakan sedikit ruang untuk berdoa.

 

 
Menuju ke sana

Dari pusat kota Batam, menuju Camp Vietnam menempuh waktu kurang lebih 1.5 jam dari Batam. Tempat ini berjarak sekitar 50 km dari Batam. Untuk transportasi pada umumnya pengunjung memilih menggunakan kendaraan pribadi atau jasa travel. Namun saat ini sudah tersedia bus umum (trans Batam) menuju Galang. Sayangnya bus tersebut tidak mengantar langsung ke lokasi, Anda harus berjalan kaki menuju ke dalam.

Camp Vietnam di buka setiap hari. Paling ramai dikunjungi pada waktu weekend. Biaya masuk Rp 5.000 per orang. Sebaiknya bawalah makanan sendiri. Di sini hanya tersedia kedai yang menjual snack dan minuman saja. Lokasinya berada di depan museum.

Dalam perjalanan, anda akan menemukan binatang seperti monyet, berhati-hatilah apabila membawa makanan. Sebagai persiapan, sebaiknya siapkan obat anti nyamuk.