Awalnya saya mengira gemblong adalah sejenis camilan dari Sumatera Barat yang mirip dengan godok gulo saka.Dugaan itu ternyata keliru.

Meski bentuknya serupa, bulat memanjang dan berbalut gula, keduanya merupakan jajanan tradisional yang berbeda, terutama dari sisi bahan dasar.

Ada memang kesamaan pada penggunaan pemanis, yakni gula aren yang dalam bahasa Minangkabau dikenal sebagai gulo saka, kadang dipadukan dengan gula pasir.

Saya pertama kali mengenal gemblong lewat tayangan YouTube Ria SW. Dalam salah satu videonya, Ria membeli satu kotak gemblong di sebuah kawasan perumahan.

Caranya menyantap camilan itu dengan lahap membuat saya spontan teringat godok gulo saka. Padahal, Ria sama sekali tidak sedang memakan godok, melainkan gemblong, jajanan tradisional yang dikenal sebagai bagian dari khazanah kuliner Betawi dan juga populer di kalangan masyarakat Sunda.

Asal-usul Gemblong

Asal-usul gemblong memang tidak tercatat secara tunggal dan pasti. Namun, banyak sumber kuliner menyebut gemblong sebagai jajanan khas Betawi yang sudah lama dijumpai di pasar tradisional Jakarta dan sekitarnya.

Dalam catatan kolonial akhir abad ke-19, termasuk tulisan Maurits Greshoff (1894), kue berbahan ketan yang dilapisi gula ini sudah dikenal di wilayah Jawa, menandakan persebarannya yang cukup luas sejak masa lalu.

Berbeda dengan gemblong, godok gulo saka justru sangat akrab dengan lidah saya. Namun ironisnya, saya belum pernah benar-benar mencicipinya di Batam.

Menemukan Gemblong di Batam

Suatu hari, saya menemukan sebuah rumah makan kecil berkonsep rumah tinggal di kawasan perumahan Citra Batam, Batam Center. Konsepnya sederhana, makan seperti di rumah sendiri.

Nama tempat itu Warung Mbah Putri. Di sanalah saya akhirnya menemukan gemblong.
Rasa penasaran langsung muncul.

Warung Mbah Putri di Batam

Warung Mbah Putri di Batam

Apalagi, saat itu seorang ibu tampak memborong beberapa potong gemblong. Dalam hati saya sempat khawatir kehabisan. Beruntung, gemblong tidak habis diborong.

Saya pun langsung mengambil dua potong, satu berbalut gula merah dan satu lagi dengan lapisan gula putih. Setelah mencicipi gemblong, kesan pertama saya adalah rasanya sangat mirip dengan godok gulo saka.

Namun, setelah menelusuri resep dan bahan dasarnya, perbedaan keduanya menjadi lebih jelas. Gemblong berbahan utama beras ketan, sedangkan godok gulo saka berbasis singkong.

Gemblong berbeda dengan Godok

Secara umum, gemblong dibuat dari tepung beras ketan putih atau hitam yang dicampur santan dan kelapa parut. Adonan ini digoreng hingga matang, lalu dilapisi gula aren cair yang memberikan aroma khas karamel dengan sentuhan smoky.

Sementara itu, godok gulo saka dari Sumatera Barat dibuat dari singkong yang direbus atau diparut, dicampur kelapa, lalu digoreng.

Setelah itu, godok dibalur dengan gula pasir yang dicampur gula aren hingga membentuk lapisan manis bertekstur kristal.

photo godok: pinterest

photo godok: pinterest

Dalam praktiknya, beberapa penjual hanya menggunakan gula pasir sebagai pemanis.
Godok gulo saka merupakan jajanan pasar yang sangat lekat dengan kehidupan masyarakat Sumatera Barat.

Di pasar tradisional Sumatera Barat, camilan ini relatif mudah ditemukan. Bagi saya pribadi, godok gulo saka juga membawa ingatan masa kecil.

Dulu, saya kerap menikmatinya atau sekadar menitip pesan pada ibu setiap kali beliau pergi ke pasar. Godok gulo saka paling nikmat disantap saat masih hangat, baru diangkat dari penggorengan, ketika gula karamelnya masih melekat sempurna dan aromanya belum menguap.

About the Author

Eliza G

Founder and Writer

Travel and Photo Enthusiast, Local Tourism Observer

View All Articles