TANJUNGPINANG_Di sebelah barat Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, terdapat sebuah pulau kecil dengan sejarah yang besar. Pulau Penyengat hanya memiliki panjang sekitar 2 kilometer dan lebar kurang dari 1 kilometer.
Pulau ini penting dalam sejarah Melayu. Berbagai peninggalan kerajaan, masjid, makam tokoh, benteng, dan bangunan bersejarah masih berdiri di Pulau Penyengat.
Pulau ini mulai memainkan peran pada 1719. Saat itu, Raja Kecil menjadikannya sebagai basis pertahanan untuk menghadapi serangan Tengku Sulaiman dari Hulu Riau.
Dalam konflik tersebut, Raja Kecil mendapat dukungan lima bangsawan Bugis. Beberapa dekade kemudian, posisi Pulau Penyengat semakin kuat ketika Yang Dipertuan Muda Riau IV, Raja Haji, membangun sejumlah benteng pertahanan.
Salah satu peninggalan yang terkenal adalah Benteng Bukit Kursi. Benteng tersebut menjadi bagian dari pertahanan menghadapi Belanda dalam perang yang berlangsung pada 1782 hingga 1784.
Baca juga: Jelajah Patung 1000, Destinasi Spiritual di Tanjungpinang
Masjid Sultan Riau dan Jejak Kerajaan
Peran Pulau Penyengat kemudian berkembang dari basis pertahanan menjadi bagian dalam kehidupan kerajaan. Pada 1803, Sultan Mahmud menikah dengan Engku Puteri Raja Hamidah binti Raja Haji.
Setelah pernikahan tersebut, Pulau Penyengat menjadi tempat tinggal dan dikenal dengan nama Pulau Penyengat Indera Sakti. Pulau ini juga dikenal dengan sebutan Pulau Maskawin.
Salah satu bangunan yang paling mencolok hingga kini adalah Masjid Sultan Riau. Bangunan bercat kuning tersebut berdiri pada masa Yang Dipertuan Muda Riau VII, Raja Abdurrahman, pada 1832.
Masjid ini memiliki arsitektur yang menjadi salah satu ikon Pulau Penyengat. Menurut cerita masyarakat setempat, pembangunan masjid menggunakan campuran putih telur sebagai salah satu bahan perekat.
Menariknya, Masjid Sultan Riau bukan hanya menjadi situs sejarah. Hingga kini, masyarakat masih menggunakannya untuk kegiatan ibadah.
Baca juga: Tanjungpinang, Kota Klasik yang Menyimpan Sejarah dan Cita Rasa Melayu
Berkeliling Menemukan Makam Tokoh Melayu
Pulau Penyengat menawarkan lebih banyak peninggalan selain masjid. Wisatawan dapat berkeliling menggunakan becak motor untuk mengunjungi sejumlah situs sejarah.
Becak motor dapat membawa wisatawan menuju sejumlah lokasi. Beberapa di antaranya adalah Istana Kantor, Gedung Mesiu, Benteng Bukit Kursi, Balai Adat, makam raja-raja, serta sisa bangunan peninggalan Belanda.
Makam tokoh Melayu menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan tersebut. Salah satunya adalah makam Raja Ali Haji, tokoh intelektual Melayu yang dikenal melalui karya-karyanya dalam bidang bahasa dan sastra Melayu.
Wisatawan juga dapat mengunjungi makam Engku Puteri Raja Hamidah, permaisuri Sultan Mahmud Syah. Selain itu, terdapat makam Yang Dipertuan Muda Riau VII Raja Abdurrahman dan sejumlah tokoh kerajaan lainnya.






