BATAM_Mak Yong, teater tradisional masyarakat Melayu yang berkembang di Kepulauan Riau merupakan seni pertunjukan yang memadukan tari, musik, dialog, nyanyian, dan improvisasi.
Ada suara rebab, gendang, dan tetawak mengiringi pemain yang mulai memasuki panggung. Ceritanya banyak berkisah tentang kehidupan kerajaan.
Raja, permaisuri, putra mahkota, putri, pelawak, dewa, jin, hingga binatang dapat muncul dalam satu pementasan. Di Tanjungpinang, pemain teater tradisional menggunakan topeng. Penari perempuan juga memainkan tokoh laki-laki dan perempuan.
Dahulu, masyarakat menggelar Mak Yong di pematang sawah setelah musim panen. Kesenian ini kemudian berkembang dan mendapat tempat di lingkungan Kerajaan Riau-Lingga.
Baca juga: Menyusuri Jejak Sejarah Melayu di Pulau Penyengat
Sejarah Mak Yong
Mak Yong memiliki cerita yang panjang. Satu pementasan dapat membawa penonton mengikuti perjalanan seorang tokoh dari lingkungan kerajaan, menghadapi konflik, lalu berhadapan dengan berbagai rintangan.
Tokoh-tokohnya tidak hanya manusia. Dewa, jin, pelawak, pegawai istana, dan binatang juga hadir dalam cerita.
Dalam pementasan tradisional, pemain tidak terpaku pada dialog tertulis. Mereka menguasai jalan cerita dan karakter, kemudian mengembangkan adegan melalui dialog dan improvisasi.
Karena itu, pementasan Mak Yong tidak selalu berjalan dengan pola yang sama. Pemain dapat mengembangkan dialog sesuai situasi di atas panggung.
Musik menjadi bagian penting dalam pertunjukan. Rebab, gendang, dan tetawak mengiringi gerakan serta dialog pemain.
Dalam bentuk tradisional, satu sesi Mak Yong dapat berlangsung sekitar tiga jam. Bahkan, satu cerita bisa berlanjut selama beberapa malam sampai seluruh kisah selesai.
Format pementasan seperti itu membuat Mak Yong berbeda dari pertunjukan tari biasa. Penonton mengikuti cerita dari awal sampai akhir sambil menyaksikan pemain membangun karakter di atas panggung.
Baca juga: Kampung Tua Bakau Serip, Destinasi Ekowisata Batam
Pernah Hidup di Lingkungan Kerajaan
Mak Yong memiliki hubungan dengan sejarah Kerajaan Riau-Lingga. Kelompok Mak Yong dari Mantang Arang pernah mendapat dukungan kerajaan dan tampil di Pulau Penyengat.
Catatan sejarah menyebut kelompok tersebut pernah tampil di lingkungan istana Riau-Lingga. Mak Yong juga pernah dimainkan dalam acara kerajaan di Pulau Penyengat.
Baca juga: Subang Mas: A Hidden Island in Batam
Setelah Kerajaan Riau-Lingga berakhir pada 1913, Mak Yong tetap berkembang di tengah masyarakat. Para pemain membawa pertunjukan ini ke berbagai tempat dan acara masyarakat.
Jejak kesenian tersebut masih bertahan di Kepulauan Riau. Dokumentasi Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau mencatat keberadaan Mak Yong di Kijang, Mantang, dan Batam.
Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan Mak Yong sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2013. Status tersebut menempatkan Mak Yong sebagai bagian dari kekayaan budaya yang perlu dilindungi dan diwariskan.
sumber foto: SC Akib Channel



