BATAM_Pantai Moondarhanna berada di Pulau Subang Mas, sekitar 30–40 menit perjalanan laut dari Pelabuhan Rempang Cate, Galang, Batam. Dari kejauhan, garis pantainya tidak langsung menonjol sebagai lanskap dramatis.

Namun ketika cahaya matahari jatuh tegak, permukaan air dan pasirnya memantulkan intensitas terang seolah-olah mengikuti pergerakan langit. Warga setempat menyebut kawasan ini Pantai Permata.

Pulau Subang Mas/seniberjalan

Pulau Subang Mas/seniberjalan

Narasi yang berkembang di masyarakat menyebut kawasan ini pernah berada dalam lintasan aktivitas perdagangan emas oleh saudagar Tionghoa. Nama Moondarhanna sendiri ditafsirkan dari kata yang merujuk pada “moon” atau bulan.

BACA JUGA: Cara Membeli Tiket Trans Batam 2026, Lengkap dengan Rute Terbaru

Sepanjang garis pantai, batuan granit berwarna merah bata muncul dalam formasi acak. Ukurannya bervariasi, dari bongkahan besar hingga fragmen yang tertanam sebagian di pasir.

Tidak ada pola geologis yang dijelaskan secara resmi oleh studi publik setempat, namun warga mengaitkannya dengan sisa struktur lama permukiman perdagangan.

Kombinasi pasir bertekstur halus, air dengan visibilitas tinggi, dan batuan besar menciptakan ruang pesisir yang tidak homogen, lebih dekat pada lanskap transisi antara pantai dan formasi batuan terbuka.

Mata Air Subang Mas

Beberapa ratus meter dari garis pantai, terdapat sebuah mata air yang dibatasi susunan batu sederhana. Titik ini dikenal sebagai Telaga Payung Mahkota.

Airnya keluar tanpa pola musiman yang jelas, tetap mengalir meskipun digunakan terus-menerus oleh warga untuk kebutuhan domestik.

Dalam ingatan lokal, mata air ini sudah ada sejak masa Kerajaan Lingga. Ia dikaitkan dengan praktik ritual dan ruang domestik keluarga kerajaan, termasuk cerita mengenai tujuh putri yang menggunakan area tersebut sebagai tempat beraktivitas.

Pulau Subang Mas/seniberjalan

Pulau Subang Mas/seniberjalan

BACA JUGA: How to Ride Trans Batam Bus in 2026

Tidak jauh dari kawasan ini, nama Putri Dahlia muncul dalam narasi sejarah lokal. Ia dikaitkan dengan garis keturunan Kerajaan Daik-Lingga dan dimakamkan di Pulau Subang Mas setelah peristiwa karamnya perahu yang ditumpangi.

Makamnya baru teridentifikasi luas pada akhir 1990-an dan kini ditandai secara sederhana oleh gapura kecil.

Pulau Subang Mas Hari Ini

Pulau Subang Mas saat ini dihuni sekitar 80 kepala keluarga. Aktivitas ekonomi utama bertumpu pada perikanan skala kecil. Struktur sosialnya tetap berskala komunitas, dengan interaksi yang sangat bergantung pada ritme laut dan musim.

BACA JUGA: Asal-usul Nasi Kapau

Dalam beberapa tahun terakhir, pulau ini mulai masuk dalam peta kunjungan wisata berbasis eksplorasi alam di sekitar Batam dan Galang. Namun, infrastruktur wisata masih terbatas dan tidak terstandardisasi seperti destinasi arus utama.

Akses menuju pulau dilakukan melalui jalur laut, terutama dari Pelabuhan Rempang Cate. Waktu tempuh sekitar 30–40 menit, melewati jalur perairan yang diapit pulau-pulau kecil dengan karakter arus relatif stabil pada kondisi normal.

About the Author

Eliza G

Founder and Writer

Travel and Photo Enthusiast, Local Tourism Observer

View All Articles