Sulawesi Tengah – Daun yang gugur biasanya dibiarkan membusuk di lantai hutan. Namun, masyarakat Desa Beka, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, mengubahnya menjadi pewarna alami untuk kain batik. Cara ini menghasilkan warna yang khas sekaligus menjaga kelestarian hutan.

Masyarakat memanfaatkan daun dari Hutan Ranjuri, hutan adat seluas sekitar sembilan hektare yang dijaga secara turun-temurun. Mereka hanya mengambil daun yang telah gugur.

Tidak ada pohon yang ditebang untuk memenuhi kebutuhan produksi batik.

BACA : Mengapa Budaya Bir Kaleng Mengakar di Batam?

Praktik tersebut dikembangkan oleh Batik Valiri sejak 2019. Selain menghasilkan batik berciri khas lokal, usaha ini menunjukkan bahwa hutan dapat memberi manfaat ekonomi tanpa harus dieksploitasi.

Wisatawan pun kini dapat melihat langsung proses pembuatan pewarna alami hingga membatik di Desa Beka.

 

Daun Gugur Menjadi Pewarna Batik

Bahan-baku-daun-pewarna-alami-Photo_-LTKL-Gampiri-Interaksi.

Bahan baku daun pewarna alami (Photo_LTKL)

Hutan Ranjuri menjadi sumber utama bahan pewarna alami Batik Valiri. Beragam tanaman di dalam hutan menghasilkan warna yang berbeda pada kain.

Daun rau menghasilkan warna krem. Daun mangga memberikan warna kuning kehijauan. Daun jati menghasilkan cokelat kemerahan. Sementara daun ketapang menciptakan warna gelap hingga hitam.

Proses pewarnaan membutuhkan waktu lebih lama dibanding pewarna sintetis. Pengrajin merebus sekitar 10 kilogram daun kering selama empat jam.

Larutan hasil rebusan kemudian digunakan untuk mencelup kain hingga 20 kali agar warna meresap sempurna.

Read This: Transportasi Murah dari Bandara Hang Nadim 

“Kalau pewarna sintetis cukup satu kali celup, warna langsung keluar. Tapi pewarna alami butuh kesabaran. Itu yang membuat nilainya berbeda,” kata pendiri Batik Valiri, Afrianto atau Anto.

Masyarakat adat memiliki aturan khusus dalam memanfaatkan hutan. Mereka hanya mengambil daun yang telah gugur. Cara tersebut menjaga pohon tetap tumbuh dan memastikan keseimbangan ekosistem tetap terpelihara.

Hutan Ranjuri juga berfungsi sebagai penyangga lingkungan. Kawasan ini membantu mengurangi risiko banjir saat musim hujan. Saat kemarau, mata air dari hutan menjadi sumber air bersih bagi warga Desa Beka.

Mengangkat Budaya dalam Setiap Motif

Foto-Galeri-Photo_-LTKL-Gampiri-Interaksi

Foto Galeri (Photo_LTKL)

Anto mendirikan Batik Valiri setelah bertahun-tahun bekerja di industri batik di Kota Palu. Ia melihat kekayaan budaya dan alam Kabupaten Sigi belum banyak hadir dalam motif batik.

“Selama ini batik identik dengan motif Jawa. Padahal di Sigi, kita punya kekayaan alam, budaya, dan sejarah yang sangat kuat,” ujarnya.

BACA JUGA: Budget Travel : Where to Go?

Karena itu, Batik Valiri mengangkat identitas lokal dalam setiap motif. Salah satu yang paling dikenal ialah motif taiganja. Motif ini melambangkan kesuburan, cinta, dan ketulusan hati dalam budaya Kaili.

Dalam tradisi Kaili, taiganja merupakan benda sakral yang digunakan pada upacara adat. Benda itu juga sering menjadi mahar dalam pernikahan. Melalui batik, makna taiganja diperkenalkan kembali kepada masyarakat.

Selain taiganja, Batik Valiri menghadirkan motif pohon rau dari Hutan Ranjuri, daun kelor, senjata tradisional guma, hingga jejak megalitik di Kabupaten Sigi. Motif tersebut memperkenalkan sejarah, budaya, dan kekayaan alam daerah dalam selembar kain.

Batik Valiri juga memadukan teknik batik cap dan canting dengan pendekatan kontemporer. Pengrajin menggunakan sapuan kuas abstrak dan batik ciprat untuk menghasilkan desain yang lebih modern.

Dari Hutan Adat Menjadi Wisata dan Penggerak Ekonomi

Batik Valiri kini berkembang menjadi bagian dari ekowisata di Kabupaten Sigi. Wisatawan tidak hanya membeli batik sebagai oleh-oleh. Pemandu mengajak wisatawan menyusuri Hutan Ranjuri untuk mengenal tanaman penghasil pewarna alami.

Setelah itu, pengunjung belajar membatik dan mencoba proses pewarnaan alami. Pengalaman tersebut memperlihatkan hubungan antara hutan, budaya, dan kehidupan masyarakat setempat.

Program inkubasi Gampiri Interaksi turut memperkuat perkembangan Batik Valiri. Pendampingan selama delapan bulan membantu memperkuat tata kelola usaha, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta membuka akses pasar dan permodalan.

BACA JUGA: 10 Best Things to Do Batam

Program tersebut juga mendorong penggunaan pewarna alami secara lebih luas. Pengrajin mendapat pelatihan teknik ekstraksi warna dan penguncian warna menggunakan bahan alami.

Masyarakat juga menanam kembali pohon mangga, jati, dan ketapang di kawasan Hutan Ranjuri.

Kini Batik Valiri menjadi salah satu contoh ekonomi berbasis konservasi di Kabupaten Sigi. Produk batik ini beberapa kali menjadi suvenir resmi dalam kunjungan nasional dan internasional.

Pengunjung dari Brasil, Amerika Serikat, Jepang, dan sejumlah negara lain datang untuk belajar sekaligus membeli batik.

Kisah Batik Valiri menunjukkan bahwa pelestarian hutan tidak harus bertentangan dengan pembangunan ekonomi. Masyarakat Desa Beka membuktikan daun yang gugur dapat menjadi sumber penghidupan.

Dari Hutan Ranjuri, mereka menghasilkan pewarna alami yang menjaga alam, melestarikan budaya, dan memberi nilai tambah bagi ekonomi lokal. (*)

About the Author

Eliza G

Founder and Writer

Travel and Photo Enthusiast, Local Tourism Observer

View All Articles