Batam lekat dengan minuman kaleng. Saat perayaan besar seperti Imlek, Lebaran, dan Natal, warga kerap membeli minuman kaleng dalam jumlah banyak.
Minuman itu beragam. Ada soda, susu kedelai, minuman rasa buah, hingga cincau. Namun, satu jenis minuman paling menonjol di Batam: bir kaleng.
Pemandangan bir kaleng Batam di meja-meja foodcourt sudah menjadi hal biasa. Produk itu juga mudah ditemukan di kedai dan pusat kuliner. Di banyak tempat di Indonesia, pemandangan seperti ini belum tentu lazim.
Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan: mengapa budaya minum bir begitu mengakar di Batam? meskipun sebenarnya tidak semua orang Batam suka meneguk minuman tersebut.
Berawal dari pekerja pelabuhan dan galangan kapal
Adam, warga Batam yang lahir dan besar di kota ini sejak tahun 80-an, menyebut kebiasaan itu sudah ada sejak lama. Menurutnya, budaya minum bir berkembang dari kalangan pekerja pelabuhan dan galangan kapal.
“Setahu saya dari cerita yang beredar, orang-orang habis kerja biasanya kumpul dan minum bir kaleng, dulu mereka menyebut bir teger (tiger)” ujarnya.
Cerita itu juga bisa sejalan dengan sejarah Batam. Sejak awal 1970-an, pemerintah mengembangkan Batam sebagai pusat industri dan logistik nasional. Industri galangan kapal, migas, dan manufaktur kemudian tumbuh pesat.
Banyak pekerja datang dari berbagai daerah di Indonesia. Pemerintah saat itu membentuk Batam sebagai basis industri strategis yang berdekatan dengan Singapura.
Budaya berkumpul setelah bekerja, bir menjadi bagian dari aktivitas sosial pekerja. Karena praktis dan mudah disimpan dingin, bir kaleng menjadi pilihan utama.
BACA JUGA: Penginapan di Barelang Batam: Dari Murah hingga Mewah
Pengaruh Singapura
Selain industri, letak geografis Batam juga berperan besar. Kota ini hanya dipisahkan selat sempit dari Singapura. Wisatawan, pekerja asing, dan pelaku bisnis rutin keluar masuk kota ini. Kedekatan geografis tersebut menciptakan pertukaran budaya yang kuat.
Budaya konsumsi alkohol di Singapura juga lebih terbuka dibanding sebagian wilayah Indonesia. Pengaruh itu diduga ikut membentuk kebiasaan sosial masyarakat Batam.
Tidak mengherankan jika bir kemudian menjadi bagian dari tradisi berkumpul dan merayakan momen tertentu.
BACA JUGA: Rekomendasi Festival Tahunan Batam untuk Wisatawan
Bir sebagai minuman perayaan
Saat ini, bir kaleng lebih sering terlihat di foodcourt milik warga keturunan Tionghoa. Dalam banyak keluarga dan komunitas, bir telah menjadi bagian dari suasana perayaan.
Minuman itu hadir saat Imlek, Natal, pesta keluarga, atau pertemuan bersama teman. Karena itu, di Batam bir tidak selalu identik dengan hiburan malam. Bagi sebagian warga, bir justru menjadi minuman sosial saat berkumpul terutama bagi warga Tionghoa Batam.
Tentu saja, kebiasaan ini tidak berlaku bagi seluruh masyarakat Batam karena kota ini dihuni dengan latar budaya heterogen dan pilihan hidup yang beragam.
BACA JUGA: Mengenal Pulau di Batam: Subang Mas
Daya Tarik Wisatawan, Bir Batam lebih murah?
Banyak wisatawan datang ke Batam untuk berbelanja atau menikmati kuliner. Sebagian lainnya datang karena harga minuman beralkohol dinilai lebih murah dibanding daerah lain. Harganya berkisar antara Rp25.000 hingga Rp45.000 per kaleng, bergantung pada jenis dan mereknya.
Salah satu penyebab murahnya produk minuman ini adalah status Batam sebagai kawasan perdagangan bebas atau Free Trade Zone (FTZ). Status yang memberikan kemudahan arus barang dan insentif fiskal tertentu bagi kegiatan perdagangan internasional.
Pemerintah menetapkan Batam sebagai kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas melalui regulasi khusus. Meski demikian, harga bir tidak hanya dipengaruhi status FTZ. Faktor distribusi, pajak daerah, rantai pasok, dan kedekatan dengan pasar Singapura juga ikut menentukan harga di lapangan.





