Seniberjalan.com- Saya baru turun dari Kawah Ijen sehari sebelumnya. Kaki saya sakit dan badan juga pegal-pegal.
Saya memang sudah lama tidak melakukan perjalanan jauh dan menanjak. Akibatnya ya begitu. Tetapi saya tak ingin berhenti, perjalanan saya belum usai dan akan berlanjut hingga Banyuwangi dan Bali.
Pada malam itu, bersama seorang sohib dan supir kenalan dari Bondowoso, kami akhirnya memutuskan melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Baluran.
Semalam sebelum berangkat, kami sempat bimbang, apa akan mampir ke Baluran atau tidak? mengingat fisik kami yang tidak fit. Jalanpun masih meringis menahan sakit.
Tapi demi Baluran kami berubah pikiran. Sebenarnya saya lebih penasaran. Belum sampai di sana saja saya sudah menghayal. Yang terbayang Baluran adalah tempat eksotik, yang disebut little Africa yang sepertinya akan menyempurnakan perjalanan saya di Jawa.
Selain itu memang nanggung, kami sudah di Situbondo dan Baluran tidak jauh dari sini. Jalannya juga searah jalan dengan perjalanan kami berikutnya.
Abaikan rasa sakit, kata teman saya, “Sepertinya kita harus tetap jalan biar sakitnya hilang.”
“Baiklah.” Saya bulatkan tekad.

Terkagum dengan Taman Nasional Baluran

Saya benar-benar terkagum ketika pertama kali menginjakkan kaki di Taman Nasional Baluran. Seperti hayalan saya, berada di Baluran seolah-olah ada di hutan Afrika.
Memang pernah ke Afrika? Haha ya enggak, tapi pernah nonton di chanel Natgeo gitulah. Saat saya berkunjung, Baluran sedang panas-panasnya.
Saya bangga dengan pemandangan yang ada di depan saya. Mungkin tepatnya lebih ‘puas’ atau bersyukur sudah sampai di tempat sekece ini.
Bagi saya perjalanan yang berkesan adalah menemukan tempat yang memberikan makna kehidupan, seperti ke Baluran.
Dari pintu masuk, beragam yang terekam dibenak dengan apa yang saya lihat. Berawal melewati jalan di tengah hamparan hutan nan hijau dan masih asri.

foto seniberjalan.com

Sesekali saya menemukan monyet bergantungan di pohon. Bagi saya Baluran memang mempunyai nilai penting untuk perlindungan flora dan fauna, dan layak dikunjungi sebagai edukasi.
Lebih jauh jalan ke dalam, pemandangan yang tadinya hijau berubah dengan padang sabana yang begitu luas. Rumput mengering dan menguning.
Cuaca terik saat itu, tapi saya tidak perduli. Yang ada malah kesenangan berjalan ke sana ke mari. Saya suka dengan pemandangan Taman Nasional yang terletak di Jawa Timur ini. Apalagi berdiri kokoh sebuah gunung Baluran, sebuah landscape yang tak terpisahkan dari padang sabana.

Luasnya Sabana Baluran

foto seniberjalan.com

Tentu saja capek berjalan-jalan di Baluran. Area luas sekali. Wikipedia menulis bahwa Baluran memiliki luas 25.000 hektare, hampir 40 persen-nya adalah Sabana.
Jika ke sini momen yang tidak ingin saya lupa adalah berfoto-foto. Terutama di hamparan sabana itu. Keren abis!
Di sini juga saya menemukan jejeran kepala rusa dan banteng bertanduk yang sudah kering dan dipajang pada sebuah kayu. Sepertinya kepala rusa itu maskot dari Baluran.
Ada pula kerbau lagi asik berendam di kubangan. Hal lain yang saya suka dari Taman Nasional Baluran adalah pantainya.

foto seniberjalan.comsi

Saya baru tahu bahwa Baluran juga memiliki pantai, namanya Pantai Bama. Di pantai ini saya lebih banyak menemukan satwa liar seperti monyet yang berekor panjang.
Bagi saya, Baluran bagian berkesan dalam rangkaian perjalanan saya ke Jawa meskipun saya ke sana beberapa tahun yang lalu.
Saya masih berkeinginan untuk datang lagi dan tentunya ikut tergerak untuk datang ke Taman Nasional lainnya di Indonesia.
Benar kata teman saya itu, kami jadi lupa dengan kaki yang sakit setelah berjalan-jalan di Baluran.