Saya pikir perjalanan ke sebuah pantai di utara Bintan mulus-mulus saja. Ternyata, kami harus melewati hujan, banjir, dan mobil jip yang kami tumpangi terperosok lumpur di tengah jalan.

Memori tentang perjalanan hebat ini muncul kembali ketika seorang teman tiba-tiba nyeletuk, “kak gak ingat lagi perjalanan seru kita ke Bintan, yang mesin jip mati di jalan?” seketika itu saya langsung terbawa ingatan dengan kisahnya.

Kisah perjalanan yang terisi dengan sedikit perjuangan dan kesusahan. Ada rasa takut dan bahagia yang melengkapi drama perjalanan ini.

Tujuan kami kala itu adalah ke Pantai Senggiling. Letaknya di utara Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Tujuan akhirnya ya untuk berkemping dan mencari pantai sebagai objek potret.

foto: seniberjalan.com

Tapi, tak tak terbayang oleh saya bahwa menuju ke tempat itu tidaklah mudah, lagi pula kami pergi di musim yang tidak tepat, musim angin utara dan musim hujan.

Pada saat musim angin utara, angin laut akan berembus dengan kuat dari laut ke darat dan gelombang lautpun begitu lasak, bagai badai yang menghantam saat bermain dengan angin kencang.

Kami baru sadar di tengah perjalanan, ketika hujan mengguyur, kesusahan itu dimulai. Perlahan jalan tanah yang kami lewati berubah melembek, menjadi lumpur yang seakan-akan ingin menelan jip yang kami tumpangi.

Jip tak bisa bergerak, tertahan lumpur berat dan akhirnya mesinnya pun mati. Sehingga kami harus memutuskan, jip yang kami pinjam dari seorang teman di Tanjungpinang itu terpaksa ditinggal di tengah jalan.

Baca juga: Panorama Gunung Bintan

Sempat cemas juga sih, itukan mobil orang, gimana nanti kalau hilang? Segala kemungkinan bisa terjadi. Tapi tak ada pilihan.

Kami sudah berusaha, semua yang ikut, dua perempuan dan empat laki-laki, tak berdaya mendorong mobil itu keluar dari tanah. Hingga sampai tengah malam pun, kami masih tak berhasil. Sementara perjalanan kami masih panjang.

foto: masjok. Usaha menarik jip dari lumpur, sia-sia.

Kami mulai berjalan kaki melewati semak ilalang dengan gerimis yang menyambut. Semua barang-barang digotong dan terpaksa basah-basahan.

Rintangan belum usai. Dipikiran saya hanya ada asa, kapan kita sampai? Ada kegembiraan bercampur rasa takut saat berjalan di tengah gelap. Hujan kemudian menggenangi jalan yang kami lalui dan berubah menjadi banjir.

Banjir itu bercampur dengan air payau yang berwarna hitam. Tinggi airnya lambat laun melewati lutut. Berbagai pikiran negatif muncul di benak saya, bagaimana kalau kami tersesat di sini dan tak bisa pulang? Bagaimana kalau…di dalam air bakau ini ada seekor ular yang menggigit kaki saya. Ah, pikiran-pikiran itu begitu mengerikan bagi saya saat itu.

Tapi saya melihat teman-teman tidak berhenti, meskipun mereka semua lelah dan pastinya mereka khawatir juga. Melihat mereka, saya kembali memacu diri, bahwa kami akan sampai ditujuan. Ya, kami pasti akan selamat!!

Tidur di rumah penduduk di Senggiling

foto: masjok. Inilah tim kami.

Entah berapa lama kami berjalan di tengah hujan dan melewati banjir itu, yang pasti sudah lewat tengah malam.

Mengapa tidak meminta tolong? Ke mana? Kami berada di tengah hamparan ilalang rimbun yang jauh dari rumah penduduk. Tidak ada suara, senyap. Sinyal ponsel pun tak muncul.

Secercah harapan akhirnya datang, kami menemukan satu rumah penduduk. Saya masih tidak percaya, apa saya melihat fatamorgana?

Ah, dalam kondisi ini saya malah berpikir mistis. Udah keburu lelah, saya pasrah saja. Semula, saya pikir tidak ada orang di sana.

Baca juga: Pemandangan Poyotomo Bintan

Ternyata ada keluarga di rumah itu, sepasang suami istri. Mengapa mereka mau tinggal di tempat sesepi ini ya ? mungkin mereka hepi barangkali.

Seorang teman menemui pemilik rumah. Untungnya mereka bersedia menerima kami karena mereka tahu kami pasti butuh bantuan.

Lagian di luar angin begitu kencang dan pastinya kami sudah sangat kedinginan dalam pakaian yang basah. Mereka menyuruh kami masuk.

Rencananya kami akan kemping di depan pantai. Tapi kondisi tidak memungkinkan, tenda kami pasti hancur lebur diterjang angin.

Saya dan Ica, kawan perempuan satu-satunya, tidur di dalam rumah. Kami  benar disambut baik oleh keluarga itu. Disajikan teh dan diberi selimut hangat.

Kawan lainnya tetap memutuskan membentang tenda di halaman rumah. Padahal gerimis belum berhenti.

Kami menyeduh kopi dan memasak sesuatu. Yah, kami memang sudah kelaparan tapi sudah teralihkan dengan kecemasan dan kelelahan.

Saya tidak ingat apakah mereka tidur di tenda atau di rumah. Yang saya tahu, ketika terbangun di pagi hari, saya tidak menemukan mereka. Pada ke mana?

Mencari objek foto di pantai Senggiling

foto; seniberjalan.com

Rumah itu sudah berada di depan laut karena semalam saya mendengar deru ombak yang berisik. Kami sudah sampai di lokasi tujuan, Pantai Senggiling!

Kawan-kawan saya yang fotografer itu pagi-pagi sudah menghilang, menyibukkan diri memainkan kamera, mencari objek di sekitar pantai.

Saya ikut berjalan menyisir pantai bersama Ica, ikut memotret juga. Kami memang datang di saat yang tidak tepat ke sana, kami tidak menemukan pemandangan pantai dengan laut biru.

Yang ada hanya ombak yang menderu, air laut yang keruh dan angin utara yang begitu kuat. Saya rasa pantai Senggiling ini sungguh cantik jika cuaca cerah.

Pantainya berbatu, sebuah pemandangan langka jika disandingkan dengan pantai-pantai di Batam.

pantai Senggiling. foto: seniberjalan.com

Bagaimanapun kami sangat menikmati berada di lokasi itu. Saya tidak menyesal, justru saya bangga sudah ke sini. Banyak kisah menarik yang tak akan terlupa.

Saya jadi ingat, kami sempat mandi di sebuah sumur tanpa dinding penutup, hanya di kelilingi rumput liar yang tinggi. Saya bergantian celingak-celinguk dengan Ica.

Ada rasa takut mandi di tempat itu, karena kami di tempat terasing. Syukurnya kami bisa melewati dan memaklumi keadaan. Dan masih saja berusaha tertawa.

Pentingnya persiapan perjalanan

truk yang menarik jip.

Kami pulang dengan selamat, karena besoknya ada seorang teman yang membantu menarik jip kami dengan meminta bantuan satu truck.

Perjalanan ini memberi banyak pelajaran bagi saya, bahwa pentingnya membuat persiapan perjalanan, minimal mendeteksi keberadaan tempat yang kita tuju dan tentunya juga membaca kondisi cuaca pada hari itu.

foto: masjok

Kita juga perlu membawa perlengkapan yang dibutuhkan saat darurat seperti senter, tali, obat-obatan, topi hingga jas hujan.

Ya lain kali, saya akan lebih prepare lagi ke mana pun saya pergi.

 

Bintan, 2017.

 

Lokasi Pantai Senggiling

Tagged in:

,

About the Author

Seni Berjalan

Sang Koboi Traveler

View All Articles